Tahapan pengembangan
handout tidak jauh berbeda dengan tahapan pengembangan modul. Yang membedakan
keduanya, bahwa handout tidak selengkap modul. Jika modul dikembangkan untuk
mencapai target pembelajaran tertentu maka handout dikembangkan untuk menutup
kelemahan atau sebagai komplemen dari modul/buku/sumber belajar lain yang
digunakan.
Jika dilihat dari
macamnya, handout dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu handout yang
terlepas sama sekali dari buku utamanya dan bagian yang tak terpisahkan dari
buku/modul yang digunakan untuk materi tertentu. Handout akan berisi materi
baru jika dalam perkembangan pembelajaran ditemukan konsep/pemikiran atau
masalah baru yang belum dibahas dalam modul/buku sumber yang digunakan.
Sementara itu, handout akan berisi penjelasan yang lebih lengkap dari materi
yang sudah di bahas dalam modul/buku atau diberikan dalam pembelajaran lisan.
Aspek yang harus
diperhatikan pada saat mengembangkan handout adalah kedalaman dan banyaknya
materi. Jika informasi yang diberikan terlalu sedikit, pembaca tidak akan
memperoleh manfaat apa-apa dari handout. Sebaliknya, jika informasi dalam
handout terlalu banyak, pembaca akan enggan untuk membacanya. Tantangannya
adalah bagaimana mengisi dan menentukan informasi yang pas dalam suatu handout.
Tahapan pengembangan
handout adalah sebagai berikut:
a) Mengevaluasi
bahan ajar yang digunakan dengan menggunakan kompetensi dasar.
b) Berdasarkan
evaluasi, putuskan materi yang harus dikembangkan dengan menggunakan handout,
baru atau pengayaan.
c) Memutuskan
isi handout : overview atau ringkasan.
d) Memutuskan
cara penyajian: narasi, tabel, gambar, diagram, atau kombinasi semua ini.
e) Handout
dapat dikembangkan dengan beragam isi, misalnya:
1) Peta
atau diagram konsep yang menghubungkan antar topik atau bagian dalam topik;
2) Anotated
bibliografi. Kumpulan abstrak dari sumber yang relevan dengan materi yang
sedang dipelajari akan sangat bermanfaat bagi peserta didik. Handout yang
berisi anotated bibliografi ini akan membantu pembaca yang membutuhkan
informasi lebih lanjut tentang materi ajar tertentu;
3) Informasi
tambahan untuk meluruskan kesalahan dan bias yang ada dalam bahan ajar;
4) Memberikan
contoh baru dan contoh tambahan untuk konsep yang sulit dipahami peserta didik.
Contoh-contoh ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang peserta
didik agar pemahaman dapat ditingkatkan; dan
5) Memberikan
kasus untuk dipelajari dan diselesaikan, baik secara individu maupun kelompok.
Handout dapat diisi
dengan informasi dalam bentuk naratif deskriptif, tabel, diagram, gambar, dan
foto. Pilihan penggunaan kata-kata, tabel, atau gambar ini tergantung dari materi
yang akan disajikan. Sama seperti dalam pengembangan modul, diagram, grafis,
gambar, foto dan yang sejenis lainnya digunakan jika penjelasan dengan
kata-kata tidak atau kurang dapat mencerminkan konsep yang diinginkan.
Ada beberapa alasan
yang menyebabkan gambar banyak digunakan pada saat kita mencoba menyampaikan
sesuatu, termasuk pada saat kita mengembangkan handout